Friday, April 10, 2015

Love is Love

Sebenarnya, I love blogging so much. Gue adalah tipe yang selalu pengen ngungkapin perasaan atau apapun yg gue alamin ke social media. Tapi yah alay banget ga sih dikit-dikit update Instagram, dikit-dikit ganti status Line atau Whatsapp, dikit-dikit update di timeline Line. Jadi blogging menjadi semacam pelarian karena disini bisa cerita tentang semua hal secara sekaligus.

Udah beberapa tahun terakhir gue gapernah blogging lagi. Either karena malas, atau karena udah nggak banya temen-temen gue yang aktif blogging, padahal dulu mah hits banget. Nah, gue kembali tergerak dengan membaca blog temen gue si Awal. Gue jadi inget keasyikan waktu blogging and share whatever the fuck is in our minds.

Saat waktu senggang (engga senggang doang deh), gue suka banget buka situs 9GAG. I am addicted to it! Kalo lagi bete, buka 9gag. Lagi seneng, buka 9gag. Lagi pup dikamar mandi juga bukanya 9gag. Lagi mati gaya, lagi kebanyakan gaya, atau lagi gaya-gayaan bukanya 9gag. Bener-bener source of fun buat gue (desperate banget ga sih source of fun-nya cuma 9gag).

Tapi di 9gag gue bisa tau hal-hal yang lagi hits atau berita-berita internasional terkini disana. Gue waktu tau pertama kali pesawat Jerman jatoh ya dari 9gag. Robbie Williams meninggal ya dari 9gag. Miley Cyrus' phenomenal twerk with Robin Thicke ya dari 9gag. Emma Watson play as Belle di Disney Live Action Beauty and The Beast ya dari 9gag. Olga dan Mpok Nori meninggal dari 9gag, gadeng boong.

But, did you know, 9gag juga ngeshare personal thoughts dari para pembacanya, atau pengalaman pribadi pembacanya, such as deal with feminazis, mereka ketemu mantannya, how alone they are and never have a bf or gf, gitu-gitulah. Dan salah satu topik yang hits adalah about homosexuality. They describe homosexuality in a casual way, it sounds normal, and judge homophobia as a sin.

I was a homophobic. Yeah I said it. Waktu itu, gue pernah lagi ngopi-ngopi lucu sama Tantika, Lukman, dan Yoga. Ngebahas hal-hal penting sampai enggak penting. Dan nyerempetlah ke homosexuality. Gue dengan yakin bilang begini,

"No, I am disgusted with it. Nggak banget"
and then kata Tantika, "Tapi itu kan bukan pilihan mereka. Mereka juga ga pengen jadi begitu"
"Tetep aja. Geli tau ngeliatnya"
Terus kata Lukman, "Gapapa, lu artinya masih punya agama. Masih berpegang sama agama. Tapi ya bener emang mereka mau gimana lagi"

Sampai saat itu, pikiran gue belum terbuka.
Tapi gue rajin ngeliat post 9gag yang banyak tentang homosexuality. Tentang struggle dari gay people yang mau ngaku ke orangtuanya, bagaimana mereka "ditolak" di lingkungan, et cetera. It's sad. Dan blaaar gue nyadar kalau  well you can't control your feelings. Sama aja kaya lo yang tiba-tiba ternyata suka sama kakak kelas lo, terus gabisa move on 10 tahun. Atau lo tiba-tiba naksir guru olahraga lo yang masih muda terus gabisa move on ampe lulus. Atau lo masih tetep cinta sama mantan pacar yang abusive, hobinya suka nabokin dan ngata-ngatain lo. You know it's wrong, but you cannot handle it. Sedih kan...

Gue bukannya menyetujui adanya homosexuality, but please people jangan jadi sok benar dengan judge mereka macam-macam. Dengan bilang mereka harus sembuh, pengen mereka sembuh, dan lain-lain. Homosexuality is not a disease, people.

Tapi, kalo kalian gay atau lesbi, bukan berarti juga boleh bangga and wave it around in public. Misalnya tempel-tempelan badan di mall, peluk-pelukan, cium-ciuman di tempat umum. Even straight people doesn't allowed to do so.

Nah semoga pikiran kalian yang tadinya seperti gue bisa terbuka dan respect siapapun yang seseorang cinta. If it's not harm you, why you should be bothered? Love is Love :)

No comments:

Post a Comment